Yang berupa hanya wajahnya
Yang tersungging hanya senyumnya
Yang terbaca hanya tulisan karyanya
Yang terpampang hanya gambarnya

Akupun tak pernah melihatnya
Akupun tak pernah mendengar suaranya
Akupun tak pernah menikmati langsung senyumnya
Akupun tak pernah menghirup aromanya

Heran, tapi ini benar-benar
Dalam, bukan hanya tampak luar
Jelas, tak pernah sedikitpun samar
Sungguh, jauh dari rasa hanya sekedar

Di waktuku meratap kusebut namanya
kumintakan dia untukku pada-Nya
Di kalaku sepi kupandang hanya gambarnya
Apa daya hanya itu saja sementara yang kupunya

Tuhan, jikalau Kau pertemukan aku dengannya
Jikalau Kau izinkan aku menikmati senyumnya
Jikalau Kau hampirkan padaku suaranya
Jikalau Kau kalungkan padaku wanginya

Akankah dia tahu perihal ini?
Suara hati, cerminan rasa ini
Bertahun, rasa ini seakan mati suri
Terima kasih, pujaan hati

Namun kudengar,
Kau telah mantapkan pilihanmu pada seorang pendekar
Tinggal menunggu gelar
Dan semuanya akan terhampar

Bagaimana hubunganku dengan perasaan?
Apa yang harus kulakukan?
Berapa lama lagi akan kutemukan?
Sampai kapan lagi akan kutahan?