Malam ini, seperti biasanya. Rasanya seperti pegal menjalar di setiap guratan otot badan ini. Karena seperti biasanya, minimal 8 jam berlabel pengabdian berbayar, ditambah beberapa jam perluasan wawasan, serta beberapa waktu kuhabiskan di atas jalanan kota ini. Tak jadi soal, karena harapan dan bayangan masa depan yang indah lagi benderang terus menggelayut di benakku, seperti pepatah bersakit dahulu, bersenang kemudian. Meski terkadang ku mengeluh, tetap kujalani penuh harap.
Suatu malam, pernah aku singgah di pelataran luas tempat berkumpulnya orang banyak. Seorang menghampiriku, berbincang denganku, menawarkan mimpi indah. Diperlihatkannya mimpi itu padaku. Subhanallah, begitu indah, begitu terang, berkilauan. Rasanya seperti melihat kembali yang telah lama padam hampir hilang. Aku menyambutnya, berharap memlikinya (lagi). Dia hanya tersenyum. “Tolong perlihatkan lagi padaku”, rayuku padanya. Dia tetap hanya tersenyum. Perlahan dibungkusnya mimpi itu dengan kantung plastik bening, diikatkan pada sebuah patahan ranting, kemudian diikatkan di depan mataku. Tanganku tak sampai menjangkau kantung berisi mimpi itu. Benar-benar tak sampai.
Maka setiap saat kedua mata ini melihat ke depan, tampaklah mimpi itu. Tetap tak berubah, tak bergerak, ia berkilau di tempat dan posisi yang sama. Aku tahu satu sisi saja, aku hafal. Semakin sering aku ke pelataran itu, semakin sering aku berbincang dengan sang pemurah pemberi mimpi ini. Dia tetap hanya tersenyum. “Dapatkah kau bantu aku membukakan kantong itu dan memberikan mimpi itu padaku?” tanyaku padanya. Dia tetap tersenyum.
Sekarang, mimpi itu seperti akan jatuh. Dia tidak kehilangan silaunya, tapi mungkin kantung pembungkusnya dapat meleleh terkena pijarnya. Sedikit kantung itu mulai terlihat berlubang. “Jangan jatuh”, seruku. “Tolong jangan jatuh dan menghilang.” Aku selama ini hanya melihatmu, aku terbius, aku tak sanggup memejam. Jikalau dia jatuh, tanganku tak sampai menangkapnya. Tolong jangan jatuh, tolong. Lubang itu tampak semakin membesar. Tolong jangan jatuh. Jika kau jatuh apa lagi yang akan kulihat? Apa lagi yang akan membiusku? Apa lagi yang menawarkan pengobat pegal ini? Apa lagi??? Kapan lagi???
*Doaku padaMu Tuhan, terkadang adalah keegoisanku, ketamakanku, dan nafsuku atas ciptaanMu. Aku hanya bisa menyatakannya padaMu meski Engkau sudah tahu.*
-RAPP’s-